Pemerintah Kota Bandung Gencarkan Perang Melawan Sampah Mulai Dari Tingkat RW


HARIANJABAR.ID -  Pemerintah Kota Bandung melancarkan strategi baru dalam memerangi masalah sampah dengan memfokuskan upaya dari tingkat Rukun Warga (RW). Sebanyak 1.596 petugas pemilahan dan pengolahan sampah telah diterjunkan untuk mencakup seluruh RW di Kota Bandung sebagai bagian dari pendekatan penanganan dari hulu.

Wali Kota Bandung, M. Farhan, menyatakan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya isu kebersihan, melainkan sebuah tantangan besar yang menuntut perubahan sistemik dan perilaku masyarakat secara menyeluruh. Ia menekankan, "Sampah ini adalah persoalan serius. Kalau tidak dimulai dari hulu, maka hilirnya akan selalu berat." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya solusi yang dimulai dari sumber timbulan sampah.

Salah satu titik krusial dalam penanganan sampah adalah pasar tradisional, yang setiap harinya menghasilkan sekitar 20 ton sampah, sebagian besar merupakan limbah organik seperti dari pisang. Kota Bandung yang merupakan konsumen pisang besar, sering kali hanya memanfaatkan buahnya, sementara kulit dan bagian lain menjadi beban pengelolaan sampah perkotaan.

Farhan menjelaskan bahwa limbah organik memerlukan pengolahan khusus, seperti melalui teknologi biodigester, yang terkadang menimbulkan bau. Berbagai metode lanjutan seperti maggot, biodigester, hingga Refuse Derived Fuel (RDF) memiliki konsekuensi risiko bau, bahkan teknologi termal pun tidak sepenuhnya bebas dampak, yang sering kali menimbulkan resistensi dari masyarakat sekitar lokasi pengolahan. Tanpa penanganan yang tepat, timbunan sampah justru akan berdampak lebih besar terhadap lingkungan.

Strategi "Gaslah" dan Peran Masyarakat

Mengacu pada arahan Presiden yang menyebut persoalan sampah sebagai "perang", Farhan menegaskan bahwa perang ini unik karena musuhnya berasal dari diri sendiri. "Perangnya tidak mudah karena musuhnya datang dari diri kita sendiri. Sampah tidak pernah datang dari orang lain, tapi dari diri kita sendiri," tegasnya. Hal ini menyoroti bahwa solusi tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga pada perubahan pola konsumsi dan kebiasaan warga dalam memilah sampah.

Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung meluncurkan program "Gaslah" (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Program ini menempatkan satu petugas di setiap RW untuk memastikan sampah dipilah sejak dari sumbernya. Seluruh 1.596 RW di Kota Bandung telah memiliki petugas Gaslah yang bertugas memberikan edukasi, pendampingan, dan memastikan pemilahan sampah menjadi organik, anorganik, dan residu sebelum diangkut.

Pemkot berencana memperluas program ini hingga mencakup 9.699 RT untuk mendorong praktik pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Selain itu, kawasan komersial seperti pasar, hotel, restoran, dan perkantoran diwajibkan mengolah sampahnya secara mandiri, terutama sampah organik dalam jumlah besar, untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mendorong tanggung jawab bersama.

Farhan menekankan bahwa perubahan perilaku adalah kunci utama dalam perang melawan sampah, dengan edukasi yang berjalan paralel mulai dari rumah, sekolah, hingga tempat kerja. Ia optimistis, kombinasi penguatan sistem di tingkat RW dan RT, dukungan teknologi, serta komitmen masyarakat akan secara bertahap menekan volume sampah di Kota Bandung. "Kalau kita disiplin dari hulu, maka beban di hilir akan jauh lebih ringan. Ini kerja bersama, bukan hanya tugas pemerintah," tandasnya.


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال