Ketua Pelaksana Badan Pengelola (BP) Rebana, Helmy Yahya, mengungkapkan bahwa posisi strategis Rebana yang terintegrasi dengan berbagai infrastruktur kelas dunia menjadi daya tarik utama bagi para pemodal global. Infrastruktur tersebut meliputi Tol Cisumdawu, Tol Cipali, akses Pelabuhan Patimban, serta dukungan Bandara Kertajati.
"Rebana adalah kawasan paling strategis. Terintegrasi dengan Tol Cisumdawu, Tol Cipali, akses Pelabuhan Patimban, hingga dukungan Bandara Kertajati. Mudah-mudahan rezekinya banyak yang membangun industri di sana," ujar Dedi Mulyadi di Gedung Sate Bandung, Kamis (26/2/2026)
Daya Tarik Investor Internasional dan Dampak Ekonomi
Integrasi infrastruktur yang matang di wilayah Rebana telah berhasil menarik perhatian investor dari berbagai negara. Hong Kong menjadi investor terbesar dengan komitmen sebesar Rp8,97 triliun, diikuti oleh Vietnam (Rp2,96 triliun), Korea Selatan (Rp1,46 triliun), China (Rp1,41 triliun), dan Singapura (Rp1,22 triliun)..
"Saya mohon dukungan warga Jawa Barat karena ini PR berat. Potensi kita luar biasa, tapi pengangguran dan kemiskinan masih tinggi. Semoga proyek Rebana inilah yang bisa menyerap tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi," jelas Helmy.
Data makro ekonomi menunjukkan dampak positif dari pembangunan di kawasan Rebana. Pada triwulan III-2025, pertumbuhan ekonomi di kawasan ini mencapai 5,53 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dan nasional. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan pada tahun 2030, kawasan ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 7,44 persen dan menciptakan lapangan kerja bagi setidaknya 1,78 juta jiwa.
Memasuki tahun 2026, fokus kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah percepatan investasi dan pengembangan infrastruktur pendukung untuk memastikan Rebana menjadi penopang utama lompatan ekonomi Indonesia di masa depan.
