HARIANJABAR.ID - Di tengah maraknya aplikasi investasi digital dan meningkatnya jumlah investor ritel di Indonesia, day trading saham - aktivitas jual beli saham dalam hari yang sama untuk meraup untung dari fluktuasi harga jangka pendek - kian popular, terutama di kalangan investor ritel yang tergiur potensi keuntungan instan. Euforia ini muncul sebagai tren baru yang memikat generasi muda.
Di balik janji kekayaan cepat dalam hitungan jam yang membuat banyak pemula tergoda untuk berburu profit harian, tersembunyi risiko signifikan yang kerap luput dari perhatian, serta perdebatan sengit tentang kelayakannya sebagai strategi investasi sehat. Fluktuasi harga yang sulit diprediksi, biaya transaksi yang menggerus keuntungan, hingga tekanan psikologis yang memicu keputusan impulsif, menjadikan day trading bukan sekadar peluang, melainkan potensi jebakan. Pertanyaannya: apakah praktik ini benar-benar jalan pintas menuju kesuksesan finansial, atau justru sekadar ilusi yang menjerumuskan investor pemula? Opini ini akan mengeksplorasi kedua sisi mata uang day trading dan mengapa pendekatan ini lebih sering menjebak daripada memberikan kebebasan finansial.
Fenomena meningkatnya jumlah investor ritel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya pergeseran perilaku keuangan masyarakat, terutama generasi muda. Data Bursa Efek Indonesia mencatat bahwa jumlah investor pasar modal melonjak dari 14,87 juta Single Investor Identificatioan (SID) pada akhir 2024 menjadi 16,98 juta SID per Juni 2025, dengan investor ritel domestik menyumbang sekitar 44% dari total transaksi saham. Lonjakan ini didorong oleh kemudahan akses aplikasi trading online dan narasi keuntungan cepat yang banyak beredar di media sosial. Salah satu praktik yang paling populer adalah day trading saham, konsep ini berakar pada teori manajemen keuangan tentang risk-return trade-off, di mana potensi keuntungan tinggi selalu diiringi risiko besar.
Selain itu, perspektif behavioral finance menyoroti bagaimana bias psikologis seperti FOMO (fear of missing out) dan overconfidence sering memengaruhi keputusan investor pemula. Dengan demikian, day trading bukan hanya fenomena pasar modal, tetapi juga cerminan interaksi antara literasi keuangan, teknologi digital, dan perilaku manusia dalam mengelola risiko serta harapan profit. Aplikasi trading saham yang paling menonjol dikalangan trader muda dan pemula untuk aktivitas day trading di Indonesia saat ini adalah Stockbit dari Sinarmas Sekuritas, dan Ajaib dari Ajaib Sekuritas, keduanya menawarkan karakteristik antarmuka sederhana, modal awal kecil dan memiliki komunitas diskusi saham yang aktif (edukatif bagi trader pemula), hal ini bukan tanpa risiko melainkan sangat berisiko tinggi walaupun aplikasi tersebut menawarkan kemudahan akses, tetapi bagi trader pemula yang tanpa literasi keuangan, day trading tetap berpotensi menjadi jebakan.
Bagi sebagian investor pemula, day trading saham tampak sebagai jalan pintas menuju keuntungan besar atau potensi pengembalian modal yang lebih cepat dan berlipat ganda karena keuntungan yg didapat bisa langsung diinvestasikan kembali keesokan harinya. Fluktuasi harga harian yang tajam sering dianggap sebagai peluang emas untuk meraih capital gain dalam waktu singkat. Selain itu, day trading juga menghilangkan “risiko overnight “, di mana posisi tidak ditahan saat pasar tutup, sehingga terhindar dari potensi kerugian akibat berita buruk yang muncul di luar jam bursa.
Dengan modal relatif kecil, mereka dapat memanfaatkan aplikasi trading yang mudah diakses untuk masuk ke pasar dan mencoba peruntungan. Selain itu, praktik day trading juga dipandang sebagai sarana belajar langsung mengenai analisis teknikal, membaca grafik, serta memahami psikologi pasar. Bagi trader yang disiplin dan memiliki pemahaman teknis pasar yang mendalam, ini adalah arena yang menjanjikan keuntungan volatilitas harian bahkan tidak sedikit kisah sukses yang beredar di media sosial, di mana trader muda mampu meraih profit signifikan saat euforia saham teknologi atau kripto sedang naik daun. Narasi ini memperkuat keyakinan bahwa day trading bisa menjadi mimpi profit yang nyata, terutama bagi generasi yang haus akan pengalaman cepat dan hasil instan.
Day trading bukanlah jaminan pembantaian modal, tetapi bukan pula jalan pintas menuju kekayaan. Aktivitas ini sangat spekulatif dan membutuhkan manajemen risiko yang ketat, disiplin tinggi, dan pemahaman strategi yang matang karena di balik janji keuntungan cepat, realitasnya day trading saham justru sering menjadi jebakan bagi investor pemula.
Volatilitas harga harian yang sulit diprediksi membuat peluang kerugian jauh lebih besar dibandingkan keuntungan. Minimnya literasi keuangan menyebabkan banyak pemula terjebak dalam fenomena FOMO (fear of missing out), membeli saham di harga puncak tanpa analisis mendalam, lalu panik menjual ketika harga turun. Selain itu, biaya transaksi yang terus-menerus muncul dari frekuensi jual beli harian dapat menggerus profit kecil yang diperoleh.
Tekanan psikologis juga tidak kalah berbahaya: fluktuasi harga yang cepat memicu stres, kecemasan, dan keputusan impulsif yang berujung pada kerugian besar. Kasus kerugian investor ritel saat euforia meme stock atau jatuhnya harga kripto menjadi bukti nyata bahwa day trading lebih sering menyeret pemula ke dalam lingkaran spekulasi daripada memberikan keuntungan berkelanjutan. Potensi kerugian juga bisa tidak terbatas, terutama jika menggunakan dana pinjaman atau margin, bahkan melampaui modal awal. Bagi Investor pemula, pendekatan jangka panjang yang didasari analisis fundamental cenderung lebih aman dan memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi secara statistik.
Jika dilihat dari perspektif manajemen keuangan, day trading saham memang menawarkan peluang profit cepat, tetapi risiko yang melekat jauh lebih besar dibandingkan strategi investasi jangka panjang. Konsep risk-return trade-off menjelaskan bahwa semakin tinggi potensi keuntungan, semakin tinggi pula risiko yang harus ditanggung. Hal ini terbukti dalam praktik day trading, di mana volatilitas harga harian sulit diprediksi dan sering kali menjerumuskan pemula ke dalam kerugian. Sementara itu, teori efficient market hypothesis menegaskan bahwa pasar pada dasarnya sulit dikalahkan secara konsisten, sehingga keuntungan jangka pendek lebih mirip spekulasi daripada investasi.
Dari sisi behavioral finance, bias psikologis seperti FOMO dan overconfidence memperburuk keputusan pemula, membuat mereka lebih rentan terhadap jebakan pasar. Sebaliknya, strategi buy and hold dengan analisis fundamental cenderung lebih stabil dan sesuai bagi investor pemula, karena memberikan waktu untuk pertumbuhan aset sekaligus mengurangi tekanan psikologis. Dengan demikian, day trading lebih tepat dipandang sebagai arena berisiko tinggi yang hanya cocok bagi investor berpengalaman, bukan sebagai jalan pintas menuju kesuksesan finansial bagi pemula.
Melihat fenomena euforia day trading saham, jelas bahwa praktik ini memiliki dua sisi yang kontras: di satu sisi menawarkan mimpi profit cepat, namun di sisi lain menyimpan jebakan berbahaya bagi investor pemula. Argumen positif menunjukkan adanya peluang belajar dan keuntungan instan, tetapi argumen negatif menegaskan risiko kerugian, tekanan psikologis, serta biaya transaksi yang sering kali menggerus hasil.
Dari perspektif manajemen keuangan, day trading lebih tepat dipandang sebagai strategi berisiko tinggi yang hanya sesuai bagi investor berpengalaman dengan literasi keuangan memadai. Oleh karena itu, opini penulis menekankan bahwa pemula sebaiknya tidak terjebak dalam ilusi keuntungan instan, melainkan fokus terlebih dahulu pada edukasi, simulasi, dan strategi investasi jangka panjang yang lebih stabil. Dengan bekal literasi dan disiplin, barulah day trading dapat dipertimbangkan sebagai pilihan, bukan sekadar mimpi profit yang berujung pada kerugian. Kenali gaya trading yang sesuai dengan karakter anda dan jangan biarkan FOMO (fear of missing out) mengendalikan keputusan finansial anda.
Penulis : Tanti Wijaya, Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Ponorogo