Menanggapi hal ini, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, dr. Moh. Lutfi, menjelaskan bahwa secara klinis, gejala super flu tidak berbeda jauh dari influenza tipe A pada umumnya, namun kewaspadaan terhadap kombinasi gejala tertentu tetap penting.
"Gejalanya sebetulnya sama saja, ada demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, hingga nyeri otot atau badan terasa lemah," ujar dr. Lutfi.
Perbedaan utama yang perlu diwaspadai dari varian mutasi ini adalah kecepatan transmisinya yang berpotensi lebih tinggi antar individu.
Pentingnya Penguatan Imunitas dan Kewaspadaan Gejala
IDI Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan segera mencari antibiotik jika merasakan gejala seperti flu. Mengingat penyakit ini disebabkan oleh virus, penekanannya adalah pada penguatan sistem kekebalan tubuh.
"Tidak ada obat yang spesifik. Untuk mengatasi gejala batuk pileknya, bisa menggunakan obat yang umum tersedia di apotek. Karena ini virus, daya tahan tubuh kita sendirilah yang akan mengatasi infeksinya," jelas dr. Lutfi.
Antibiotik hanya direkomendasikan jika terjadi infeksi bakteri sekunder, bukan untuk mengatasi flu itu sendiri. Isolasi mandiri dan istirahat disarankan untuk kasus dengan gejala ringan.
"Kalau gejalanya ringan, tidak perlu dibawa ke IGD (instalasi gawat darurat). Kecuali, jika muncul gejala berat seperti sesak napas atau demam tinggi yang menetap, nah itu baru perlu diperiksakan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan," tambahnya.
Selain penerapan protokol kesehatan dasar seperti mencuci tangan dan memakai masker, IDI Jawa Barat juga mendorong masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan individu dengan daya tahan tubuh rendah, untuk mempertimbangkan vaksinasi influenza. Vaksinasi ini penting guna mencegah potensi komplikasi atau peradangan serius dalam tubuh.
Sumber : mediaindonesia.com
