Kecerdasan Buatan Menjadi Alat Canggih Deteksi Dini Penyakit Jantung


HARIANJABAR.ID-  Penyakit kardiovaskular terus menjadi ancaman kesehatan global yang signifikan, namun kecerdasan buatan (AI) menawarkan potensi baru untuk mendeteksi masalah jantung lebih awal dan akurat. CEO AliveCor, Priya Abani, melihat jantung manusia sebagai komponen vital yang paling rentan dalam sistem tubuh. 

"Sebagai seorang insinyur, saya menganalisis sistem untuk menemukan ‘titik kegagalan tunggal’. Pada tubuh manusia, titik tersebut seringkali adalah jantung," ujar Abani, menekankan bahwa banyak kasus kegagalan jantung yang sebenarnya dapat dicegah.

Salah satu tantangan utama dalam penanganan penyakit jantung adalah diagnosis yang terlambat, di mana banyak pasien baru menyadari kondisi kritis mereka saat gejalanya sudah parah. Abani memperkirakan bahwa hingga 80% penyakit kardiovaskular dapat dicegah melalui pemantauan dini. Namun, akses ke layanan medis sering kali terhalang oleh antrean panjang atau ketidakpekaan terhadap gejala awal.

"Itulah mengapa, seperti halnya menimbang badan untuk memantau berat badan adalah hal yang normal, kita juga harus membiasakan diri untuk memeriksa irama jantung kapan saja dan di mana saja," tutur Abani. 

Melalui teknologi pemantauan pasien jarak jauh (remote patient monitoring/RPM), individu dapat mengumpulkan data detak dan irama jantung secara mandiri di rumah, yang kemudian dapat dikonsultasikan secara virtual dengan penyedia layanan kesehatan. Pendekatan ini mentransformasi perawatan dari pola episodik menjadi pemantauan berkelanjutan.

Kekuatan AI terletak pada kemampuannya menganalisis data dalam jumlah besar yang melampaui kemampuan observasi manusia. Alat berbasis AI mampu mendeteksi perubahan halus pada hasil elektrokardiogram (EKG) yang bisa menjadi indikator awal potensi gangguan kesehatan.

Mendeteksi Anomali yang Tak Terlihat

"Alat-alat ini dapat mendeteksi perubahan kecil yang hampir tidak terlihat yang mungkin menandakan masalah kesehatan atau sesuatu yang perlu diwaspadai," jelas Abani. Lebih lanjut, AI memanfaatkan data longitudinal untuk memberikan gambaran kesehatan pasien secara komprehensif, bukan hanya gambaran sesaat. Dengan membandingkan data individu dengan data anonim dari ribuan pasien lain, dokter dapat memprediksi risiko perkembangan perubahan kecil menjadi masalah yang lebih serius.

Meskipun sangat bergantung pada data, Abani menegaskan komitmen terhadap keamanan dan privasi. "Semua ini dapat dan harus dilakukan melalui pengumpulan data yang aman dan pribadi. Seiring semakin banyak perusahaan menciptakan alat yang berfokus pada kesehatan, memastikan privasi setiap pasien menjadi sangat penting," pungkasnya.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال