Dalam ajang Web Summit Qatar, Hijazi memaparkan bahwa peluncuran aplikasi yang baru berjalan enam bulan tersebut awalnya hanya memiliki sekitar 150.000 pengguna hingga awal Januari. Namun, dalam beberapa hari terakhir, jumlah pengguna globalnya melonjak drastis melampaui satu juta, dan per hari ini telah menembus angka 2,5 juta pengguna.
"Kami diluncurkan sekitar enam bulan yang lalu, dan kami tumbuh hingga sekitar 150.000 pengguna hingga awal Januari. Dan dalam beberapa hari terakhir, kami mencapai lebih dari satu juta pengguna secara global. Sekarang, mulai hari ini, kami telah melampaui dua setengah juta pengguna secara global," ujar Hijazi, mengutip TechCruch.
UpScrolled dirancang sebagai platform yang menggabungkan fitur dari Instagram dan X, dengan klaim inklusifitas bagi seluruh suara pengguna. Perusahaan menyatakan bahwa platform ini menerima berbagai jenis konten dan tidak menerapkan praktik shadowban atau sensor terhadap penggunanya.
UpScrolled Krytisi Praktik Perusahaan Teknologi dan Moderasi Konten
Dalam paparannya, Hijazi melontarkan kritik terhadap perusahaan teknologi besar yang dianggapnya menerapkan praktik bisnis tidak etis, salah satunya adalah praktik penjualan data pengguna demi keuntungan finansial. Ia juga menuding platform media sosial melakukan penyensoran konten yang mendukung Palestina secara selektif.
"Mereka tidak peduli menjual data Anda kepada pihak lain asalkan itu menguntungkan bagi mereka. Dan mereka tidak peduli dengan kesehatan mental Anda, artinya mereka akan merancang sesuatu hanya untuk membuat Anda kecanduan menggunakan platform tersebut selama itu menguntungkan bagi mereka," tegas Hijazi.
Terkait dengan keluhan pengguna mengenai konten pornografi dan ketelanjangan yang muncul di platformnya, Hijazi menyatakan bahwa perusahaan tidak akan menggunakan algoritma amplifikasi untuk mempromosikan atau menekan konten tertentu. Namun, mereka akan menerapkan pedoman komunitas yang mematuhi hukum regional. Saat ini, UpScrolled tengah membentuk tim ahli untuk memfinalisasi pedoman komunitas tersebut, sembari mempertimbangkan masukan dari para pengguna.
Meskipun belum mengumumkan pendanaan secara publik, Hijazi mengungkapkan bahwa jejaring sosial ini telah menarik minat dari para investor. Popularitas UpScrolled meningkat seiring dengan mulai ditinggalkannya TikTok oleh sebagian penggunanya pasca perubahan struktur kepemilikan di Amerika Serikat. Platform ini dibeli oleh konsorsium investor AS, termasuk Silver Lake dan Oracle, dengan ByteDance (perusahaan asal China) masih memegang 20 persen saham.
Selain UpScrolled, platform lain seperti Skylight yang berbasis pada AT Protocol juga mengalami lonjakan pengguna, melebihi 380.000 dalam beberapa hari setelah kesepakatan TikTok final. Agar dapat mempertahankan pengguna dalam jangka panjang, platform-platform ini perlu terus mengembangkan fitur, membangun komunitas yang kuat, serta menetapkan kebijakan moderasi konten yang jelas, sebuah tantangan yang juga dihadapi oleh platform lain.
