Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa tim ahli diperlukan untuk memberikan penilaian saintifik guna merumuskan langkah penanganan yang terstruktur dan efektif.
"Kami menurunkan tim ahli sebagaimana kami lakukan di Sumatera karena kalau bicara lingkungan ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira guna menentukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut," jelasnya.
Kajian ini tidak hanya berfokus pada dampak fisik longsor, tetapi juga aspek ekologis seperti kondisi tanah, vegetasi, dan potensi risiko bencana susulan guna memetakan strategi mitigasi yang tepat.
Perubahan Tata Guna Lahan dan Dampaknya
Menteri Hanif mengidentifikasi bahwa aspek urbanisasi yang masif menjadi salah satu pemicu perubahan tata guna lahan di sekitar area longsor Cisarua. Perubahan ini membawa pola pertanian yang tidak sesuai dengan karakter wilayah lokal.
"Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis," katanya.
Tanaman subtropis tersebut umumnya tumbuh optimal di ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Karakteristik wilayah lokal yang berbeda menjadi pertimbangan penting dalam evaluasi ini.
"Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini," jelasnya.
Untuk memastikan akurasi kajian, tim ahli akan berkolaborasi langsung dengan pemerintah kabupaten. "Kami mungkin perlu waktu 1-2 minggu untuk menyelesaikan kajian detil bersama para ahli dari akademisi, dari badan riset dan lain-lain," tutur Menteri Hanif.
Sumber : Antara
