Tabungan Kelas Menengah Melambat Akibat Tekanan Ekonomi




HARIANJABAR.ID -  Pertumbuhan simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta mengalami perlambatan signifikan, mengindikasikan adanya tekanan pada pendapatan kelas menengah yang daya belinya belum pulih sepenuhnya. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan pertumbuhan simpanan kategori ini hanya mencapai 3,43% pada Desember 2025, menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 3,64%.

Menurut peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Riza A. Pujarama, perlambatan ini sejalan dengan penurunan pendapatan riil kelas menengah.

"Perlambatan tersebut sejalan dengan menurunnya pendapatan riil kelas menengah. Sehingga, yang terjadi adalah turunnya pertumbuhan simpanan di bawah Rp100 juta," ujar Riza.

Penurunan pertumbuhan simpanan dapat menjadi indikasi awal pergeseran daya beli, terutama jika dikaitkan dengan faktor ekonomi lain yang memengaruhi kondisi riil rumah tangga. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa porsi kelas menengah dalam populasi terus menurun, seperti data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan penurunan jumlah penduduk kelas menengah dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024.

Faktor Pendorong Perlambatan Tabungan

Selain tekanan pendapatan, faktor musiman turut memengaruhi perlambatan tabungan di bawah Rp100 juta pada Desember 2025. Periode libur sekolah yang panjang serta kebutuhan belanja akhir tahun dan liburan mendorong kelas menengah untuk mengalokasikan pendapatannya untuk konsumsi.

"Kemungkinan besar kelas menengah menggunakan pendapatannya untuk hal tersebut, sehingga mengurangi porsi tabungan," terang Riza.

Senada, peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Mervin Goklas Hamonangan, berpandangan bahwa masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya pendapatan riil yang tersisa, baik akibat melemahnya daya beli maupun meningkatnya beban cicilan.

"Ini seiring (maraknya) budaya pinjaman yang muncul karena keterbatasan finansial," katanya.

Faktor lain yang turut berkontribusi adalah kesulitan memperoleh lapangan pekerjaan di tengah ketidakpastian ekonomi, yang menghambat masyarakat untuk menambah tabungan.

Perkembangan ini perlu dipantau secara serius oleh pemerintah dan pemangku kepentingan guna mencegah tekanan ekonomi berujung pada keresahan masyarakat.

Sementara itu, simpanan dengan saldo di atas Rp5 miliar justru menunjukkan pertumbuhan tinggi sebesar 22,76% pada Desember 2025. Ferdinan D. Purba, Pejabat Pengganti Sementara (Pgs) Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan dan Resolusi Bank, mengaitkan lonjakan ini antara lain dengan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah.

Sumber : Media Indonesia

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال