
Dari total 10 pasien yang dirawat, dua di antaranya adalah bayi berusia sembilan bulan dan satu tahun, satu pasien berusia 11 tahun, lima pasien berada dalam rentang usia 20 hingga 60 tahun, dan dua pasien lainnya berusia di atas 60 tahun.
Yovita menjelaskan bahwa gejala yang dialami oleh pasien bervariasi. Namun, karakteristik super flu yang cepat berevolusi dapat memicu gejala yang lebih parah dibandingkan influenza musiman pada umumnya. "Kalau dibandingkan dengan flu musiman, gejalanya memang bisa lebih berat," ujar Yovita.
Terutama pada kelompok usia lanjut atau pasien dengan riwayat penyakit penyerta, perawatan super flu berpotensi membutuhkan waktu lebih lama dan memiliki risiko komplikasi yang lebih serius, bahkan hingga menyebabkan kematian. Tingkat keparahan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi komorbid pasien serta kekuatan sistem kekebalan tubuh individu.
Strategi Penanganan dan Pencegahan
Untuk mengantisipasi penyebaran lebih lanjut dan memastikan penanganan pasien yang optimal, RSHS Bandung telah mempersiapkan fasilitas isolasi khusus. Fasilitas ini serupa dengan yang diterapkan pada masa penanganan pandemi COVID-19.
"Kami menyiapkan ruang isolasi intensif, ruang perawatan biasa, serta ruang isolasi di IGD, baik untuk pasien intensif maupun nonintensif," jelas Yovita.
Yovita mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap gejala flu berat. Ia menyarankan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan individu dengan kondisi medis penyerta.
Sumber : antara