Indramayu Tetapkan 59 Desa Tangguh Bencana Antispasi Cuaca Ekstrem




HARIANJABAR.ID -  Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, telah mengukuhkan 59 desa sebagai desa tangguh bencana, sebuah langkah proaktif yang signifikan untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem serta fenomena hidrometeorologi selama musim hujan. Inisiatif ini dirancang untuk membekali masyarakat dengan kapasitas adaptasi dan respons bencana yang lebih baik.

Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menegaskan bahwa program desa tangguh bencana merupakan prioritas utama dalam melatih masyarakat Indramayu agar lebih siap menghadapi dan mengurangi dampak buruk dari kondisi hidrometeorologi.

 “Kondisi geografis Indramayu yang terbentang dari pesisir hingga kawasan pertanian, menjadikan daerah ini memiliki kerawanan bencana yang beragam,” ungkapnya. 

Wilayah pesisir seperti Pasekan, Cantigi, Losarang, dan Kandanghaur acap kali dilanda banjir serta rob, sementara area tengah dan selatan lebih rentan terhadap ancaman angin puting beliung. Oleh karena itu, penerapan program desa tangguh bencana dinilai sangat krusial untuk memperkuat kesiapsiagaan hingga ke akar rumput masyarakat.

Selain pembentukan desa tangguh, Pemerintah Kabupaten Indramayu juga secara berkelanjutan memberikan pelatihan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kebencanaan kepada 69 desa. Upaya ini diperkuat dengan pengenalan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) di lingkungan sekolah. Langkah-langkah ini bertujuan untuk membangun fondasi ketahanan bencana yang kokoh dari berbagai lapisan masyarakat.

Bangun Budaya Sadar Bencana 

Bupati Lucky Hakim menekankan pentingnya menanamkan kesadaran akan potensi bencana sejak dini kepada generasi muda. “Kami ingin menanamkan budaya sadar bencana sejak dini kepada generasi muda,” ujarnya. 


Lebih lanjut, seluruh elemen di Indramayu didorong untuk siap bergerak cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam menghadapi potensi bencana musim hujan. Kesiapsiagaan ini diuji melalui apel siaga yang melibatkan simulasi penanganan bencana, termasuk skenario evakuasi korban banjir. Simulasi tersebut menjadi ajang penting untuk menguji sistem komunikasi, alur komando, dan efektivitas penanganan darurat. 

“Ketika bencana datang, setiap unsur harus tahu perannya dan bergerak cepat secara terkoordinasi,” pungkas Bupati, menekankan pentingnya kolaborasi dan respons yang terencana.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال