Garuda Indonesia dan Citilink Berikan Diskon Tiket Lebaran Hingga 18 Persen




HARIANJABAR.ID-  
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Citilink Indonesia akan menurunkan tarif tiket penerbangan kelas ekonomi untuk rute domestik. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebijakan Pemerintah dalam rangka menyambut periode mudik Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, yang bertujuan memfasilitasi mobilitas masyarakat dan mendukung ekosistem aviasi nasional.

Penyesuaian harga tiket penerbangan kelas ekonomi oleh Garuda Indonesia telah berlaku sejak 10 Februari hingga 29 Maret 2026, dengan periode terbang dari 14 hingga 29 Maret 2026. Kebijakan ini sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 4 Tahun 2026, Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara (KP-DJPU) Nomor 27 Tahun 2026, dan Keputusan Menteri (KM) Nomor 43 Tahun 2026. Sementara itu, Citilink juga telah memberlakukan penyesuaian harga tiket kelas ekonomi per 11 Februari 2026, untuk memperluas jangkauan layanan transportasi udara dalam satu grup.

Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, menyatakan apresiasinya terhadap peran aktif Pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan publik dan keberlanjutan industri penerbangan nasional. Ia menekankan dukungan maskapai terhadap stimulus kebijakan yang terkoordinasi dan berdampak langsung bagi masyarakat.

"Kami mendukung langkah Pemerintah dalam menghadirkan kebijakan stimulus yang terkoordinasi dan berdampak langsung bagi masyarakat. Kebijakan ini menegaskan pentingnya konsolidasi kebijakan secara strategis untuk memperkuat peran maskapai nasional sebagai penyedia layanan publik, khususnya pada periode peak season Lebaran," ujar Thomas, dikutip dari keterangan resminya pada Jumat, 13 Februari 2026.

Penyesuaian Tarif Tiket Lebaran Didukung Insentif Pemerintah

Penyesuaian tarif tiket pada periode Lebaran 2026 diproyeksikan mencapai kisaran 17-18 persen. Angka ini dimungkinkan berkat kombinasi insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 100 persen, serta penyesuaian biaya jasa penumpang (Passenger Service Charge/PSC) dan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge).

Lebih lanjut, Thomas menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan volume penumpang pada Lebaran 2026 menunjukkan tren positif. Hal ini diharapkan dapat mendorong optimalisasi kapasitas dan jaringan penerbangan Garuda Group, sembari tetap memprioritaskan standar keselamatan dan kualitas layanan. 

"Ke depan, kami berharap kebijakan ini dapat menjadi fondasi berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem aviasi nasional. Kami percaya, sinergi antara Pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan menjadi kunci agar sektor penerbangan memperkuat peran sentralnya sebagai penggerak konektivitas, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi daerah," tutup Thomas.

Sumber : viva.co.id

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال