Ribuan warga memadati berbagai lokasi publik seperti Alun-alun Bandung, Jalan Asia Afrika, dan kawasan Braga, menikmati suasana kota yang ramai namun tetap tertib hingga larut malam.
Kehadiran ribuan masyarakat di ruang publik Kota Bandung pada malam pergantian tahun tidak hanya menciptakan atmosfer kebersamaan, tetapi juga turut mendorong geliat ekonomi lokal. Pedagang kaki lima dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melaporkan peningkatan penjualan yang signifikan, terutama untuk makanan, minuman, dan jajanan. Warga yang berkumpul di berbagai titik strategis antusias membeli produk-produk tersebut untuk menemani momen perayaan.
Sementara itu, ketiadaan kembang api disambut positif oleh banyak pengunjung. "Justru lebih enak seperti ini. Tidak bising, anak-anak tidak kaget dan kita bisa menikmati kota dengan santai, " ujar Rahman, seorang wisatawan asal Jakarta.
Pendapat serupa diungkapkan oleh Deni dari Tasikmalaya. "Bandung tetap terasa hidup. Ramai, tapi tertib. Ini yang kami harapkan dari perayaan tahun baru," katanya.
Banyak yang melihat momen ini sebagai bentuk kedewasaan dalam merayakan tahun baru, dengan fokus pada kebersamaan, refleksi diri, dan harapan baru, bukan sekadar kemewahan perayaan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, turut memantau langsung jalannya perayaan dengan berkeliling menggunakan kendaraan roda dua ke sejumlah pos pengamanan. Ia didampingi oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bandung, termasuk Kapolres Kota Bandung dan Dandim.
"Alhamdulillah kondusif. Hal terpenting, tim kesehatan standby di stasiun karena setelah perjalanan jauh biasanya ada warga yang mengalami gangguan kesehatan," ujar Farhan.
Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban, Pemerintah Kota Bandung bersama TNI-Polri telah menyiagakan 18 Pos Pengamanan yang tersebar di berbagai titik kota. Seluruh jajaran, mulai dari TNI, Polri, Koramil, Polsek, hingga Forkopimda, dilaporkan dalam kondisi siaga penuh untuk memastikan perayaan berjalan lancar dan aman bagi seluruh warga.
