Mengusung tema “Nada & Do’a, Spirit Cut Nyak Dien untuk Indonesia”, festival ini menjadi pengingat akan keteguhan dan warisan nilai luhur. Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, dalam sambutannya menekankan makna mendalam dari perayaan tersebut.
“Diasingkan bukan berarti berhenti berjuang. Dari Sumedang, Cut Nyak Dien mewariskan nilai moral dan spiritual yang terus hidup hingga kini,” kata Bupati Sumedang, menyoroti inspirasi abadi dari sosok Cut Nyak Dien.
Ia lebih lanjut menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan representasi kuat dari ikatan historis yang terjalin antara kedua wilayah. “Sumedang dan Aceh adalah satu tubuh. Satu dalam rasa, satu dalam sejarah, dan satu dalam nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Warisi Nilai Perjuangan dan Persatuan
Rangkaian kegiatan festival dikemas secara komprehensif, dimulai dengan ziarah, doa bersama, hingga pertunjukan seni kolaboratif yang melibatkan seniman dari Aceh dan Sunda. Penampilan yang memadukan musik, pembacaan puisi, dan seni tutur berhasil menciptakan suasana yang reflektif sekaligus penuh kekhidmatan bagi para pengunjung.
Salah satu momen paling menyentuh hati terjadi ketika Cut Marlina, perwakilan masyarakat Aceh yang berdomisili di Sumedang, membacakan puisi berjudul “Duka Aceh”. Puisi tersebut menggambarkan kesedihan mendalam akibat bencana, namun tetap sarat akan harapan dan kekuatan doa yang tak pernah padam.
